HOME OPINI OPINI


  • Kamis, 28 November 2019
Guru Sebagai Pengajar dan Pendidik
Masrizal Rajo Basa (Pamong Budaya Sumatera Barat)

Guru Sebagai Pengajar dan Pendidik

Oleh: Masrizal*

"Intelegence plus character; that is the true goal of education"(Marthin Luter King Jr)

Kecerdasan dan keelokan budi pekerti adalah tujuan utama dari pendidikan. Begitulah salah satu terjemahan sederhana yang dapat kita simpulkan dari pernyataan aktivis dan pejuang kulit hitam dari Amerika tersebut. Semua kita sepakat bahwa untuk memperoleh kecerdasan dan budi pekerti yang luhur, diperlukan sebuah proses yang disebut dengan belajar. Melalui belajarlah kita memperoleh berbagai macam pengetahuan. Untuk belajar kita membutuhkan seseorang pengajar dan pendidik yang disebut dengan guru. Dengan bergurulah kita menyerap multi pengetahuan.

Sepertinya ini pulalah yang menjadi alasan ketika kaisar Hirohito menanyakan berapa jumlah guru yang tersisa setelah Hiroshina dan Nagasaki diluluhlantakkan oleh bom atom tentara Sekutu pada tahun 1945 silam. Dengan 250 ribu orang guru yang tersisa Ia optimis Jepang bisa bangkit setelah porak poranda pasca perang dunia.Tingginya perhatian dan penghormatan terhadap guru telah membuat Jepang lebih maju dari sebelumnya dan kini Jepang termasuk salah satu negara terkuat di Asia.

Di Indonesia, mencerdaskan kehidupan bangsa adalah salah satu tugas dan kewajiban negara seperti tertuang dalam pembukaan UUD 1945.Nah, Tugas mulia ini tentunya tertumpang pada semua guru yang ada di seluruh pelosok tanah air, mulai dari Taman Kanak-Kanak sampai Perguruan Tinggi.

Menurut UU No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, tugas guru tidak hanya sebagai pengajar. Guru juga bertugas mendidik,  membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.

Lantas, apa sama antara mengajar dan mendidik?, kedua hal ini ternyata berbeda. Mengajar menurut para ahli hanya sebatas penyampaian pengetahuan (transfer of knowledge) dengan cara dan metode tertentu. Sedangkan mendidik memiliki arti yang lebih luas. Dia tidak hanya sekedar mentransfer ilmu pengetahuan, akan tetapi membimbing mengarahkan, mengajarkan nilai-nilai, membentuk mental dan kepribadian.

Beratnya tugas seorang guru sebagai pengajar sekaligus pendidik  menjadikan profesi ini sebagai pekerjaan yang mulia. Dari guru kita tahu tulis baca, guru juga yang mengajarkan kita berhitung melalui pelajaran Matematika, tidak sekedar itu mereka juga mengajari tentang moral, etika dan tata krama, bahkan persoalan seni dan budaya pun tak luput dari penjelasannya.

Jika direnungkan, masih banyak pengetahuan lainnya yang kita serap dari mereka Pahlawan tanpa tanda jasa itu. Oleh karena itu, sangatlah tercela jika ada murid yang tidak menghormati dan bahkan durhaka pada gurunya.

Sebagai pengajar dan pendidik, seorang guru sekaligus menjadi contoh dan teladan bagi muridnya. Dalam Tradisi Jawa dikenal istilah“guru digugu lan ditiru” (Guru adalah orang yang dipercaya dan ditiru) dan “Guru kencing berdiri, murid kencing berlari” adalah ungkapan yang sudah sering kita dengar. Ia bagaikan alarm bagi pendidik dalam menjaga marwahnya sebagai figur yang dipercaya dan dihormati oleh murid-muridnya.

Namun sebagai sebuah bangsa, Indonesia masih jauh tertinggal dari negara-negaralain di dunia. Persoalan guru dan siswa seakan tidak henti-hentinya menggerogoti kualitas pendidikan kita. Alangkah sering kita melihat di layar kaca, membaca dari berbagai media berita-berita yang tidak mengenakkan. Ada berita guru mencabuli para siswa, ada murid yang memukuli dan mengeroyok gurunya. Bahkan baru-baru ini Fanly salah seorang siswa dari SMP di Menado meninggal dunia karena kelelahan menjalani hukuman lari keliling lapangan yang diberikan oleh gurunya. Dan masih banyak lagi setumpuk persoalan yang menerpa dunia pendidikan kita. Masalah gonta ganti kurikulum, kualitas lulusan yang masih rendah menyebabkan lemahnyadaya saing ketika memasuki dunia kerja. Angka pengangguran pun bertambah membengkak setiap tahunnya. Inilah beberapa contoh masalah yang kita sebutkan, jika diteruskan tentu tidak akan ada habisnya.

Menurut data GTCI (Global Talent Competitiveness Index ) Kualitas pandidikan Indonesia berada di urutan 67 dari 125 negara di dunia dan di Asia Indonesia berada diperingkat keenam dan hanya unggul di atas Kamboja, Laos dan Myanmar. Wah, ternyata kualitas pendidikan di Indonesia sangat jauh kualitasnya jika kita bandingkan dengan negara lain, padahal dana pemerintah untuk pendidikan sangatlah besar dari tahun ke tahun. Bahkan di 2019 total anggaran pendidikan mencapai 20 persen dari APBN. Ironis memang.

Lalu, apakah sebenarnya yang kurang dari pendidikan kita hari ini?, Apakah persoalan mendasar bagi bangsa ini dalam dunia pendidikan? Pertanyaan-pertanyaan yang rumit dan sulit untuk dijawab dengan cepat. Biarlah para pakar yang akan menjelaskannya.

Semoga saja langkah Presiden yang penuh kontroversi dengan menempatkan Nadiem Makarim sebagai panglima perang dalam dunia pendidikan menuai hasil yang diharapkan. Pendiri Gojek itu diharapkan mampu mengubah paradigma dan memajukan kualitas pendidikan di seantero Nusantara. Kesuksesannya dalam moda transportasi online diharapkan bisa diterjemahkan ke dalam dunia pendidikan. Melalui kepemimpinannya diharapkan lulusan di Indonesia memiliki multi talenta yang siap menciptakan lapangan kerja. Sarjana-sarjana tidak lagi menjadi kuli di negeri sendiri.

Namun, guru tetaplah guru, padanya tertumpang harapan dan impian. Maju mundurnya bangsa ini terletak di pundak mereka. Kita harus tetap menghormati mereka karena ia bagaikan cahaya di kegelapan kebodohan kita. Dengan sabar mereka terus mengajar dan mendidik kita, anak-anak dan cucu-cucu kita. Terima kasih guru. Engkaulah pahlawan tanpa tanda jasa. Tanpamu siapalah aku, anda dan kita semua. Jadilah engkau idola kami dengan keluasan ilmu dan kehalusan budi pekertimu. Selamat Hari Guru.

 

*Pamong Budaya


Tag :#Opini #Masrizal