HOME WEBTORIAL PROVINSI SUMATERA BARAT


  • Jumat, 28 Juni 2019
Festival Pesona Mentawai: Genjot Kunjungan Wisata ke Sumbar, Lestarikan Budaya Mentawai

Tuapeijat (Minangsatu) - Guna mendongkrak kunjungan wisatawan serta melestarikan budaya, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mentawai akan menggelar Festival Pesona Mentawai (FPM) untuk yang keempat kalinya.

“Tujuan kita mengadakan kegiatan festival ini antara lain kita ingin menunjukan bahwa mentawai memiliki budaya yang tersendiri, kemudian kita ingin melestarikan warisan leluhur masyarakat mentawai, kemudian membangun kawasan wisata, sehingga masyarakat bisa memanfaatkannya untuk menjual hasil olahan makan khas mentawai, sehingga terjadi pertumbuhan ekonomi,” kata Yudas Sabaggalet, saat meninjau kesiapan pelaksanaan FPM Tahun 2019 di Kawasan Wisata Pantai Mapaddegat, sehari sebelum pembukaan FPM dilaksanakan.

Dikatakan, tahun 2019 ini merupakan keempat kalinya Festival ini dilaksanakan, yang nanti akan berlangsung dari sejak pembukaan tanggal 28 Juni – 1 Juli 2019.  Kegiatan FPM ini pertama kali dilaksanakan pada awal November 2016 lalu  di pantai mapaddegat, Desa Tuapejat, Kecamatan Sipora Utara, selanjutnya edisi yang kedua dilaksankan di tempat yang sama pada awal oktober 2017. Berbeda pelaksanaan FPM yang ketiga justru dilaksanakan di Desa Muntei, Kecamatan Siberut Selatan, dimana desa itu dijadikan sebagai destinasi wisata budaya, 

Kehadiran FPM tersebut diharapkan ikut menyumbang pencapaian target kunjungan wisatawan ke Sumatera Barat (Sumbar). Menurut Sekretaris Dinas Pariwisata Taufik Ramadan, pada tahun 2019 ditargetkan wisatawan nusantara  (wisnu) berkunjung ke Sumbar sebanyak 8.476.724 orang, meningkat dari tahun 2018 yang sebanyak 8.073.070.
Sedangkan untuk wisatawan mancanegara, dari jumlah yang datang pada tahun 2018 sebanyak 54.369 orang, ditargetkan pada tahun 2019 kunjunga wisman mencapai 57.087 orang. 
“Karena itu, kita mendorong kabupaten/kota untuk proaktif membuat even. Misalnya seperti FPM di Mentawai," ujarnya kepada Minangsatu. 

Dikatakan, dibalik Pesona alam Kepulauan Mentawai ternyata juga menyimpan warisan budaya tersendiri, hal itu menjadi salah satu kekayaan yang patut dibanggakan masyarakat Kabupaten Kepulauan Mentawai dan oleh Provinsi Sumatera Barat secara umum.

Maka, apabila kini warisan budaya itu mulai tergerus oleh zaman. Tradisi-tradisi leluhur masyarakat Mentawai mulai jarang diterapkan oleh generasi milineal, bahkan bisa dikatakan tidak ada. "Maka dengan FPM itu, di samping mendatangkan wisatawan, yang tidak kalah pentingnya adalah bagaimana masyarakat setempat meyakinkan generasi muda untuk mulai mendalami budaya sendiri," tukuk Taufik Ramadan.

Tidak seperti saat ini, mungkin karena generasi Mentawai sudah banyak menyerap budaya luar, sehingga lambat laun satu per satu tradisi Mentawai mereka tinggalkan. Bahkan terkesan justru taradisi-tradisi itu sudah tidak sesuai dengan kepribadiannya.    

Maka, dalam rangka melestarikan warisan budaya Bumi Sikerei tersebut, Pemkab Mentawai melalui Dinas Pariwisata Pemuda dan Olah Raga (Disparpora) Mentawai, membuat kegiatan FPM. 

Di panggung FPM ini nanti, akan ditampilkan berbagai kegiatan atau atraksi yang menggambarkan tradisi budaya Mentawai.

Setidaknya para pengunjung selain menikmati atraksi budaya dan kuliner khas Mentawai, dipantai Mapadeggat yang memiliki pasir putih, laut yang biru dan gulungan gelombang ombak yang kerap diburuh para turis asing pencinta selancar tampak begitu dekat dengan lokasi FPM yang sekarang sedang dilaksanakan. 

“Di sini ada ombak yang jarang sepih, selalu ramai turis surfing,” kata seorang pemain surfing lokal, warga Mapaddegat.

Ada beberapa item kegiatan pada FPM 2019 diantara, 28 juni diawali dengan jalan santai, pawai budaya dan sore harinya pembukaan, kemudian hari berikutnya pameran, lomba lagu mentawai, lombah buah parade dan sayur, jelajah hutan mangrove dan snorkeling, lombah panahan tradisional mentawai, lomba perahu layar di pantai jati, lomba turuk laggai, peragaan busana mentawai dan atraksi pembuatan tato Mentawai yang konon katanya sebagai tato tertua di dunia.

Di lokasi kegiatan FPM dilaksanakan itu, tampak puluhan pondok pelaku usaha kecil menengah magais rezeki, mereka menyediakan minuma dan aneka makanan khas Mentawai kepada pengunjung yang ingin menikmati kuliner, disamping itu puluhan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di lingkungan Pemkab Mentawai juga ikut mengambil bagian, membangun stand untuk menunjukan program dan hasil kerja yang dicapai selama ini.

“Harapan kita dengan digelarnya kegiatan FPM ini, masyarakat setempat jadi terbiasa berjualan, sehingga apabila ada wisatan berkunjung ke sini, ada kuliner yang bisa dinikmati oleh wisatawan, selanjutnya ekonomi masyarakat akan meningkat,” ujar Bupati Mentawai dua periode itu, yang didampingi Sekda Mentawai Martinus Dahlan, Kepala Disparpora Mentawai Joni Anwar dan sejumlah asisten Bupati.

Demikianlah, Mentawai dengan FPM, diharapkan akan mengukuhkan pengembangan kluster kepariwisataan di Sumbar. Seperti disebutkan Taufik Ramadan, ada lima kluster pengembangan kepariwisataan Sumbar, yakni; Padang dan sekitarnya, Bukittinggi dan sekitarnya, Tanah Datar dan sekitarnya, Sawahlunto dan sekitarnya, serta Mentawai dan sekitarnya. 

“Semuanya memerlukan pengembangan destinasi dan pemasaran. Dan pelaksanaan even yang rutin dan kontinyu, adalah bagian dari pembangunan kepariwisataan,” pungkas Taufik Ramadan.


Wartawan : Ing
Editor : boing

Tag :#pesona mentawai#pariwisata