HOME OPINI OPINI

  • Kamis, 28 Mei 2020
Diskriminasi Ditengah Pandemi
Fara Salsabila

Oleh: Fara Salsabila 

Wabah Corona Viris Diasese (Covid19) yang menyerang dunia secara global kini telah menyasar Indonesia. Terhitung hingga Rabu (27/5/2020) pukul 12:00 WIB, angka kasus positif Covid-19 berjumlah 15.843 orang. 

Kematian dimana-mana, terbatasnya pergerakan masyarakat, rusaknya rantai pasok negara (industry) dan mengganggu perekonomian dunia. 

Sandiaga Uno mengatakan penyebaran virus corona membuat ekonomi dunia melemah 0,5-0,9%. Pelemahan itu juga akan berdampak terhadap laju pertumbuhan ekonomi Indonesia. 

Ditinjau dari segi Ilmu Komunikasi, hal ini makin diperburuk oleh komunikasi media yang selalu memberi ketakutan berlebihan dan menyebabkan kebanyakan masyarakat menjadi paranoid dan soliter. Ketakutan ini bahkan lebih mematikan daripada virus, yang menyebabkan banyak sekali manusia, namun tidak dengan rasa manusiawi. keegoisan-pun mulai merambah karna dipupuki rasa takut.

Hal ini dikarenakan ketakutan yang membabi buta disebabkan kurangnya pengetahuan masyarakat akan pandemi ini, hoax yang bertebaran ditambah pula media yang seakan menambah kengerian pada wabah ini seperti yang telah saya singgung diatas. 

Hal ini lah yang memicu terjadinya diskriminasi kepada korban, keluarga korban, lingkungan korban, bahkan yang lebih buruk lagi kepada garda terdepan, yaitu tenaga medis.

Masalah ini tentunya harus segera diselesaikan, mengingat tindakan masyarakat yang sudah diluar batas, seperti melakukan Panic Buying, penimbunan APD ( masker, hand sanitizer dan sejenisnya) , penolakan jenazah korban Covid-19, menyudutkan pemerintah, mengucilkan masyarakat yang tinggal selingkungan korban terjangkit, bahkan hate speech juga bullying yang ditujukan terhadap keluarga tenaga medis.

Disaat seperti ini, peran kita sebagai garda yang mengatur barisan, yaitu ranah komunikasi sangatlah besar. seharusnya kita memberi edukasi terhadap masyarakat terkait merapatkan dan mengeratkan kembali ikatan kita sebagai makhluk yang memiliki hati nurani, bagaimana kita sebagai masyarakat harus saling bahu membahu menghadapi wabah yang sudah ditetapkan presiden sebagai bencana nasional ini, juga memutus rantai persebaran hoax yang seakan menyulut api keresahan masyarakat. 

Selain masyarakat, yang paling penting adalah keberanian pemerintah menindak tegas kasus ini, bukan hanya kepada penyebar hoax dan pelaku diskriminasi, juga transparansi pemerintah terhadap masyarakat.

Masyarakat sudah sepatutnya memiliki pengetahuan agar tidak mudah termakan hoax dimasa penyebaran wabah yang genting ini. tidak hanya pengetahuan tentang virus dan penyebarannya, akan tetapi bagaimana cara bersikap kita sebagai manusia dalam memerangi fenomena yang mematikan ini. 

Memerangi hoax adalah solusi yang sangat penting, mengapa? Kemkominfo mencatat ada 163 konten hoax tercatat (per 11 maret 2020) menyebar didunia maya yang memancing diskriminasi ras. Penting bagi pemerintah untuk bertindak tegas terhadap pelaku penyebaran hoax, karna inilah akar dari permasalahan yang kita bahas.

Kita sudah menarik benang merah permasalahan ini. Jika kita mampu memerangi hoax dan saling merangkul antar pemerintah dan sesama masyarakat (terutama tenaga medis,TNI dan Polri) kita mampu menghadapi pandemi ini dengan kepala dingin. karna musuh utama kita adalah hoax yang memecah belah persatuan NKRI.

Masalah tentunya tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Untuk itu, dari ranah komunikasi, kita harus mengambil beberapa tindakan untuk mengatasi permasalahan yang menyulitkan ini. maka dari itu akan lebih menarik jika diberikan solusi berupa 'Komunikasi' karna sejatinya semua manusia adalah makhluk yang setiap waktunya berkecimpung dengan komunikasi. 

Bagaimana cara kita semua berperan? 
Melakukan pendekatan terhadap masyarakat yang berlaku diskriminasi. Biasanya masyarakat yang rentan menjadi sasaran diskriminasi adalah masyarakat lansia. Mengapa?  karna pada usia inilah yang dijadikan target dari penyebaran hoax dan ketakutan dengan metode : Perencanaan Pendekatan : Tentunya kita harus memperhatikan, kepada siapa tujuan pesan yang akan kita sampaikan. ataukah generasi X, Y, ataupun  Z.

Dan disini target kita yaitu generasi X (generasi kelahiran 1966-1976) generasi ini biasanya lebih suka mengkaji lebih dalam dan membaca, namun sulit terbuka dengan hal baru. Nah disini kita harus melakukan komunikasi dengan pendekatan yang lebih pada pengkajian, contohnya ; "Marilah kita sebagai ikut andil dalam melawan virus ini dengan saling mendukung satu sama lain" . 

Kata-kata yang agak formal, dengan penjelasan yang agak formal pula .Melakukan Penyuluhan terhadap masyarakat yang melakukan tindak diskriminasi

Perencanaan penyuluhan : Memberikan pengetahuan terhadap masyarakat , akan pentingnya saling memberi dukungan dan berbagi perasaan positif dalam menghadapi situasi ini.Memutus rantai penyebaran hoax dengan menyampaikan kepada masyarakat agar mempercayai berita yang kredibel, dan menghindari desas desus dari berbagai sumber yang tidak dapat dipertanggungjawabkan, seperti WAG, Facebook dan lain-lain yang tidak jelas sumbernya. Membangun kembali kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah dengan cara menunjukkan transparansi yang sudah mulai ditetapkan atas perintah dari bapak Presiden Ir.H.Joko Widodo
Mendesak pemerintah agar bertindak tegas terhadap pelaku penyebaran hoax, juga menyalurkan transparansi pemerintah kepada masyarakat dengan komunikasi yang efektif.

Bagaimanakah proses penyelesaian masalahnya? 
Dengan melakukan pendekatan terhadap warga pelaku diskriminasi atau perundungan, kita tau bagaimana cara berkomunikasi yang baik agar pesan dapat diterima oleh target. dengan begini, target akan menerima kita, dan juga mau mendengarkan kita. 

Selanjutnya saat penyuluhan, masyarakat akan lebih tau mengenai apa yang sebaiknya tidak,dan harus dilakukan dalam masa ini. masyarakat juga akan berfikir kritis dalam menerima sebuah berita dan menentukan cara nya bersikap.
jika citra pemerintah telah dianggap baik oleh masyarakat, masyarakat akan mulai mematuhi himbauan pemerintah, mulai dari penanganan wabah hingga segi apapun untuk meringankan kondisi ini.

Jika terlaksana dengan baik, suasana akan kembali membaik.semua akan fokus bagaimana caranya agar pandemi ini segera berakhir, dan tentunya kita juga mengurangi beban pemerintah dalam menangani hal ini.
Yang seharusnya kita perangi bukanlah virusnya, melainkan penindasan antar sesama yang membuat ini menjadi lebih buruk. Sudah sepatutnya kita sebagai manusia yang memiliki hati nurani turut andil dalam meringankan beban negara ini. jangan sampai virus membunuh rasa kemanusiaan kita semua.

Kita semua akan lebih kuat jika melakukannya bersama-sama. jangan sampai ketakutan memangkas simpati kita. Jadilah pahlawan yang menjadi tameng garda terdepan. jangan sampai negara ini kekurangan orang-orang baik.

(Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Andalas)


Tag :#Opini #Fara Salsabila