HOME OPINI OPINI

  • Rabu, 10 Juni 2020
Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Dunia Pendidikan Sijunjung
Siswa yang tidak mempunyai HP dan yang tempat tinggal tidak ada signal telekomsel, harus mengumpulkan tugas secara manual

Oleh: Yenny Septi 

Sejak mewabahnya pandemi Covid-19, berdampak besar disetiap lini dan di berbagai sektor. Dunia pendidikanpun tak ketinggalan merasakan dampaknya. Proses kegiatan belajar mengajar harus tetap berjalan, meskipun peserta didik berada di rumah. Pendidik dituntut mendesain media pembelajaran sebagai inovasi dengan memanfaatkan media daring (online).

Sebagai payung hukum pelaksanaanya mempedomani Surat Edaran Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nomor 4 Tahun 2020, tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan dalam Masa Darurat Penyebaran Corona Virus Disease (Covid-19).

Sistem pembelajaran dilaksanakan melalui perangkat personal computer (PC) atau laptop  yang terhubung dengan koneksi jaringan internet. Pendidik dapat melakukan pembelajaran bersama di waktu yang sama menggunakan grup di media sosial seperti WhatsApp (WA), telegram, instagram, aplikasi zoom ataupun media lainnya sebagai media pembelajaran.

Dengan demikian, pendidik dapat memastikan peserta didik mengikuti pembelajaran dalam waktu bersamaan, meskipun di tempat yang berbeda. Selanjutnya juga dapat memberikan tugas terukur sesuai dengan tujuan materi yang disampaikan kepada peserta didik.

Kondisi seperti ini tentu bukanlah hal yang mudah, karena belum sepenuhnya setiap jenjang, mulai dari guru, siswa, orang tua, termasuk sarana pendukung siap menghadapi suatu hal yang langka seperti ini. Problematika dunia pendidikan masih komplek, salah satunya belum seragamnya proses pembelajaran, termasuk kualitas capaian pembelajaran yang diinginkan. 

Kondisi pandemi Covid-19 ini, mengakibatkan perubahan yang luar biasa. Sepertinya seluruh jenjang pendidikan 'dipaksa' bertransformasi untuk beradaptasi secara tiba-tiba (drastis) untuk melakukan pembelajaran dari rumah melalui media daring (online). Dilema para orang tua juga tak terelakan, satu sisi mungkin disibukan oleh pekerjaan sehari hari, disisi lain SDM orang tua yang terbatas.

Hal lain yang menambah dilema dan dirasa berat oleh pendidik dan peserta didik. Pengetahuan masyarakat (orangtua/wali) masih banyak yang belum mengerti dan memahami langkah langkah pengawasan ataupun bentuk bimbingan yang akan dilakukan. Pendidik, dituntut kreatif dalam penyampaian materi melalui media pembelajaran daring. Dampaknya akan menimbulkan tekanan fisik maupun psikis (mental).

Selain itu, kondisi geografis dan ekonomi yang berbeda juga merupakan dilema yang berat bagi peserta didik dan pendidik sendiri. Di Kabupaten Sijunjung, misalnya, masih ada beberapa lokasi jangkauan signal telekomsel terputus putus. Malah ada yang tidak terjangkau oleh signal telekomsel itu sama sekali. Sementara proses pembelajaran daring harus tetap berjalan.

Selain itu, dilihat dari ekonomi masyarakat (orang tua) tidak semuanya mampu membeli paket selama pembelajaran saat pandemi covid-19. Lebih memiriskan lagi sebagian orang tua tidak mampu membelikan anaknya HP yang kapasitas punya anroid. Akibatnya, setiap ada materi ataupun tugas tugas yang diberikan guru tentunya selalu tertinggal dan malah tidak dapat menyelesaikan sama sekalim.

Hikmahnya dengan sistem pembelajaran ini, Pola pikir yang positif dapat membantu menerapkan media pembelajaran daring, sehingga menghasilkan capaian pembelajaran yang tetap berkualitas. Belajar di rumah dengan menggunakan media daring mengharapkan orangtua sebagai role model dalam pendampingan belajar anak, dihadapi perubahan sikap.

Masa pandemi Covid-19 ini bisa dikatakan sebagai sebuah peluang dalam dunia pendidikan, baik pemanfaatan teknologi seiring dengan industri 4.0, maupun orangtua sebagai mentor. Harapannya, pasca-pandemi Covid-19, kita menjadi terbiasa dengan sistem saat ini sebagai budaya pembelajaran dalam pendidikan.

Guru atau dosen bukan satu-satunya tonggak penentu. Ini tantangan berat bagi guru, dosen, maupun orangtua.Terlebih bagi orangtua yang work from home (WFH), harus tetap mendampingi anak-anaknya, khususnya anak yang masih usia dini. Ini mengingat belum meratanya diperkenalkan teknologi dalam pemanfaataan media belajar, seperti laptop, gadget, dan lainnya.

Hikmah selanjutnya yaitu penggunaan media seperti handphone atau gadget, dapat dikontrol untuk kebutuhan belajar anak. Peran orang tua semakin diperlukan dalam melakukan pengawasan terhadap penggunaan gadget. Anak cenderung akan menggunakan handphone untuk mengakses berbagai sumber pembelajaran dari tugas yang diberikan oleh guru. Sehingga akan membuat anak menghindari penggunaan gadget pada hal-hal kurang bermanfaat atau negatif.

(Guru, Mahasiswa MPI Pasca Sarjana IAIN Batusangkar dan Demina, Dosen Pasca Sarjana IAIN Batusangkar)


Tag :#Siswa #Guru