HOME OPINI OPINI

  • Minggu, 18 Juli 2021
Cerita di Balik 167 Mahasiswa
Prof. Dr. Elfindri, SE, MA.

Cerita di Balik 167 Mahasiswa

Oleh : Elfindri, Dir. SDGs Unand*

Berita yang diturunkan di media sosial, perihal mahasiswa Unand, menarik perhatian dan tidak dapat diabaikan begitu saja.

Penulis sebagai pendidik melihat berita itu serius untuk ditelusuri. Sekalipun Pak Rektor sudah mengklarifikasi berita mahasiswa yang mengundurkan diri, dalam tanda kutip.

Banyak penjelasan yang sebenarnya mesti ditelusuri datanya. Sekalipun laporan sebanyak 167 mahasiswa dari dua fakultas, artinya banyak jumlah lain yang belum terkuak.

Alasan ekonomi mahasiswa mungkin tidak banyak bisa kita percayai. Mengingat beasiswa tersedia dalam jumlah yang terbatas.

Kajian kami menemukan secara nasional hanya 15 persenan coverage beasiswa untuk hampir seluruh jenjang. Jika kita sangsikan bahwa karena miskin juga tidak. Mengingat hany sekitar 5 persen anak yang berasal dari keluarga miskin yang berhasil lolos sampai ke PT (Perguruan Tinggi). Sebelumnya mereka sudah berhenti sekolah pada jenjang SMP dan SMA.

Menariknya info data yang diungkap memang sudah menjadi tugas wartawan. Tetapi kita mesti mampu menelusuri lebih lagi  ada apa di belakang kejadian itu.? Kenapa di Pertanian dan fakultas Budaya begitu banyak jumlah mereka yang mengundurkan diri itu? Apakah kita bisa mendapat perbandingan, bagaimana pada jurusan yang sama dari UNP atau UIN Imam Bonjol? Apakah juga fenomenanya sama? Mungkin bisa dilihat dan ditelusuri oleh kawan-kawan lain.

Faktor lain bisa jadi karena kurangnya pemahaman mahasiswa sebelum masuk ke PT. Arahan kurang sehingga mereka memilih juuisan bukan karena passion (keinginan/minat) tetapi karena syarat untuk lolos dengan passing grade rendah.

Bagi kami pribadi jurusan pertanian dan budaya sama saja dengan jurusan lain. Sama-sama perlu namun mesti bersyarat. Syaratnya apa? Passion mahasiswa ada pada jurusan itu. Tapi kalau sekedar passion juga tidak terlalu benar, jurusan-jurusan itu bisa jadi tidak menarik. Ketika mahasiswa sampai di PT mereka tidak melihat sesuatu harapan di kemudian hari.

Posisi kami adalah pada dimensi itu.Jika ingin pandai bertani, model sekarang tidak lagi yang perlu dalami ilmunya tapi cukup dengan uji coba saja dan jika ada kesulitan maka media sosial tersedia Youtube dan paket lain untuk belajar. Mudah sekali. Ditambah lagi banyak mahasiswa yang masuk ke pertanian, tidak mampu memenuhi satu aspek connecting management alias tidak sanggup berbuat di lapangan. Ini berlaku juga bagi pendidik. Bagaimana mahasiswanya yakin, kalau dosennya juga tidak membuat mahasiswa yakin? Ini berlaku untuk semua jurusan.

Kita memang memerlukan banyak ilmuwan, namun dunia sekarang sudah berubah. Ilmuwan memang terbatas diperlukan di lapangan kerja. Yang banyak adalah praktisi. Untuk yang berfikiran simpel praktisi memerlukan proses pembelajaran di lapangan baik dalam bentuk magang ataupun jenis lainnya.

Refleksi mahasiswa mengundurkan diri banyak rahasia di belakangnya. Akhirnya pembuat berita telah membuat kita semestinya lebih kuat untuk berfikir, begitulah suasan batin saat ini. Bisa jadi mahasiswa mengejar jurusan karena obsesi cari uang bukan untuk mendalami sesuatu yang mereka memiliki talent dalam pengambilan keputusan.

Ini baru cerita Unand yang okelah masuk lapisan ke dua setelah PT yang relative perform. Apalagi di PTS yang kelas amburadul. Ceritanya mesti lebih menarik lagi.
 

Elfindri, adalah Guru Besar Ekonomi SDM Universitas Andalas Padang dan Direktur Pusat Studi Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) Universitas Andalas.

Tag :#167 mahasiswa Unand#Perbandingan dengan UNP dan UIN Imam Bonjol#Sumbar#