HOME OPINI OPINI


  • Jumat, 5 Juli 2019
Bagurau Saluang dan Pecandunya
Eka Meigalia, M Hum. dosen Sastra Minangkabau FIB Unand

Bagurau Saluang dan Pecandunya

Oleh : Eka Meigalia


Seperti biasa pukul 8 malam, Mahar mulai mengayuh sepedanya dari Simalanggang menuju Pasa Payokumbuah. Pai mancaliak saluang (Pergi menonton saluang), katanya jika ditanya. Sekitar setengah jam paling lama mengayuh sepeda, ia sampai di Pasa Payokumbuah, menuju satu sudut di emperan toko. Di situ telah ada beberapa bangku plastik dan beberapa meja bundar. Di bagian depan, ada panggung kecil dan spanduk yang bertuliskan Raja Musik Entertainmen; Menyewakan Orgen Tunggal, Saluang Orgen. Mahar pun mengambil satu bangku kosong dan memesan kopi di satu warung yang ada di lokasi pertunjukan tersebut.

Di panggung telah duduk empat orang pendendang perempuan yang biasa disebut tukang dendang. Kemudian satu orang laki-laki pemain musik tiup, tukang saluang. Dan di samping panggung duduk di bangku seorang laki-laki yang bertugas sebagai janang (pembawa acara) serta satu orang pemain orgen dengan orgennya. Mereka telah memulai pertunjukan sebelum Mahar datang. Janang pun telah sibuk menyapa penonton dan mengundang penonton untuk menyampaikan kandak (keinginan) melalui pantun-pantun yang akan didendangkan tukang dendang. Penonton yang bakandak akan maju menuju tempat janang duduk, membisikkan kandak seraya menyisipkan uang. Bisa juga kandak tersebut dituliskan di kertas dan diberikan ke janang dengan disertai uang dengan besaran yang tidak tentu.

Basaluang yang kadang disebut bagurau atau badendang adalah salah satu tradisi lisan yang berkembang di Minangkabau. Tradisi ini berupa pendendangan pantun-pantun lepas dengan iringan alat musik tiup yang disebut saluang. Pantun tersebut dapat berupa pantun yang berisi kesedihan, percintaan, kritikan, sindiran, atau yang lainnya sesuai dengan pesanan dari penonton. Selain di kaki lima seperti pertunjukan di Pasa Payokumbuah itu, pertunjukan ini juga dapat ditemukan di berbagai kegiatan masyarakat Minangkabau, seperti pesta pernikahan, penobatan gala adat, atau hiburan.

Istilah bagurau dalam masyarakat Minangkabau dapat diartikan juga dengan bercanda dan bercerita. Jadi bagurau itu adalah kegiatan yang dilakukan oleh sekelompok orang untuk bercerita sambil bercanda. Dalam pertunjukan saluang dendang, istilah bagurau dilekatkan karena memang antara penampil (tukang dendang) dengan penonton selalu terbangun suasana yang akrab, komunikatif, dan sekaligus penuh canda tawa. 

Kegiatan ini seperti ini telah ada sejak duhulu. Pertunjukan bagurau ini adalah salah satu bentuk hiburan yang sangat ditunggu dan diminati oleh banyak kalangan. Pernah satu cerita disampaikan oleh seorang tua di daerah Kamang-Agam, bahwa ketika radio telah ada dan hanya dimiliki oleh sedikit orang, pemilik radio pun akan didatangi beramai-ramai hanya untuk mendengar saluang bagurau. Para pencandu saluang itu akan setia duduk hingga larut malam menikmati pantun-pantun yang disampaikan tukang dendang.

Para pencandu saluang bagurau ini juga muncul dalam pertunjukan yang dilaksanakan di emperan toko seperti yang diikuti Mahar di Pasa Payokumbuah. Di awal tahun 2000-an, pertunjukan saluang kaki lima ini juga masih dapat ditemui di Pasa Banto, Bukittinggi. Namun saat ini pertunjukan tersebut sudah tidak dapat ditemui lagi. Juga karena Pasa Banto pun telah mengalami perubahan dari sebuah pasar dan terminal menjadi sebuah Pusat Perbelanjaan (Banto Trade Centre). Dan sejauh ini, pertunjukan di Pasa Payokumbuah adalah satu pertunjukan saluang kaki lima yang masih dapat ditemui dan  rutin dilaksanakan.

Mahar hanya satu dari sedikit pencandu saluang bagurau yang masih bertahan. Terus setia mendatangi pertunjukan yang ada, dan terus memandang bahwa pertunjukan itu adalah hiburan yang dapat memuaskan hatinya. Kenapa para pencandu ini semakin berkurang dan semakin sedikit? Ada beberapa hal yang menyebabkannya. Pertama kemajuan teknologi hiburan. Ketika masyarakat mengenal radio, televisi, kaset, VCD, lalu internet seperti sekarang, masyarakat telah memiliki banyak sekali alternatif hiburan. Semakin ke sini, jenisnya semakin beragam. Hiburan tersebut dapat dinikmati sendiri atau pun teman, di luar rumah, atau pun di rumah tanpa perlu ke mana-mana. Misalnya saja di televisi. Mulai dari bangun tidur, hingga tidur lagi, banyak sekali jenis tontonan yang bisa dinikmati. Berita, musik, film, atau dialog interaktif. Film pun beragam jenisnya, mulai dari drama, komedi, horror, petualangan, dan sebagainya. Selain itu, stasiun televisi pun jumlahnya semakin banyak, baik dari dalam negeri, atau luar negeri. Bahkan, siaran tersebut sebagian dapat dinikmati hingga 24 jam tanpa henti. Itu baru dari satu media, televisi. Belum lagi dengan hadirnya internet dan smartphone.

Kedua, terbatasnya ruang dan waktu yang dimiliki oleh masyarakat. Masyarakat saat ini dapat dikatakan memiliki aktifitas yang cukup banyak menyita waktunya. Dalam keseharian, mulai dari bangun tidur hingga kembali tidur, aktifitas yang dilakukan sangat banyak. Bekerja, mengurus rumah, mengurus anak, juga kegiatan di lingkungan social. Belum lagi waktu yang dibutuhkan dan dihabiskan di jalan dalam menjalani aktifitas tersebut. Akibatnya, hiburan yang dinginkan dan diminati oleh menyarakat adalah hiburan yang mudah didapat dan mudah diakses. Sementara, pertunjukan saluang bagurau adalah bentuk hiburan yang menuntut penontonnya untuk meluangkan waktu dan sedikit energi untuk mendapatkannya. Apalagi sekarang pertunjukannya semakin jarang ditemui dan hanya ada di tempat-tempat tertentu saja.

Ketiga, saluang bagurau dianggap sebagai hiburan orang dulu, tradisiona, dan tidak kekinian. Hal itu terutama sekali diungkapkan oleh generasi muda. Sekitar tahun 90-an saja, generasi mudanya sudah menganggap lagu saluang adalah lagu yang tidak menarik. Membuat mengantuk dan tidak dapat dipahami. Memang tahun itu pun orang-orang tua lah yang masih setia mendengar dan menonton saluang. Begitu juga dengan generasi yang saat ini disebut generasi milenial. Saluang jelas tidak masuk dalam daftar hiburan mereka. Apalagi daftar hal-hal yang disenangi.

Dari segi musik, musik saluang memang telah diaransemen dengan berbagai alat musik lainnya. Bahkan sekarang telah pula ada saluang dangdut, saluang pop, juga remix. Namun dari segi lirik atau pantun yang didendangkan, tetap tidak banyak generasi muda yang memahaminya. Pantun Minangkabau sebagaimana Pantun Melayu umumnya, terdiri dari empat baris. Dua baris di awal adalah sampiran, dan dua baris berikutnya isi. Jika sampiran tujuannya adalah memperindah bunyi dan penyampaian pantun, bagian isi adalah bagian yang berisi maksud dari pantun tersebut. Apakah kesedihan, kegembiraan, sindiran, dan sebagainya. Namun, bagian isi dari Pantun Minang ini rupanya tidak pula bersifat ungkapan langsung. Ketidaklangsungan adalah cirri khasnya sehingga pendengar pun butuh kejelian dan kemahiran untuk memaknainya. Dan hal itu juga jauh dengan generasi sekarang yang lebih suka dengan sesuatu yang spontan, langsung, dan tepat sasaran. Artinya, pertunjukan saluang yang salah satu tujuannya menghibur penonton melalui pantun-pantunnya juga tidak tercapai. Maka tidak heran jika dalam satu pertunjukan ditemui penonton yang tua-tua tertawan, sementara yang muda hanya diam bingung.

Meskipun penonton dan pencandunya semakin sedikit, tradisi saluang bagurau adalah salah satu identitas masyarakat Minangkabau yang perlu dipertahankan. Di dalamnya tidak saja terdapat kekayaan bahasa dan gaya penyampaiannya, namun juga kaya dengan pengajaran dan kearifan lokal masyarakat Minangkabau. Dalam perkembangannya, kekhasan saluang bagurau ini juga telah menginspirasi banyak seniman untuk terus menghasilkan karya seperti munculnya lagu-lagu Minang modern yang menggubah musik atau pun pantun saluang. Tentunya hal ini menjadi satu harapan bagi kita bahwa tradisi ini akan terus bertahan dan menyesuaikan diri dengan perubahan yang ada di masyarakat.


Tag :Opini Eka Meigalia