HOME OPINI OPINI

  • Rabu, 16 Januari 2019
BUKAN SEMATA-MATA SALAH REZIM JOKOWI
AG Sutan Mantari

Jangan mengaku-ngaku hidup susah di zaman Pak Jokowi apabila setahun bisa Umrah tiga kali. Jangan bilang semuanya mahal di zaman Pak Jokowi, apabila  setiap hari malah makan enak dan nongkrong dari cafe ke cafe. Jangan bilang agama saya diganggu di zaman Pak Jokowi, sementara tak ada gangguan untuk mendatangi masjid-masjid dan mendengarkan ceramah para ulama baik offline maupun online. Jangan bilang cari kerja susah di zaman Pak Jokowi, sementara bisa lulus PNS dan pegawai BUMN lewat seleksi yang dibuka di zaman Pak Jokowi. Jangan bilang hidup tak enak di zaman Pak Jokowi, sementara setiap musim liburan bisa wira-wiri ke berbagai destinasi wisata dalam dan luar negeri.

Mengurus negara sebesar Indonesia dengan jejak otoritarian selama lebih dari 50 tahun memang adalah sesuatu yang sangat sulit. Sumber daya alam kita sejak lama sudah dibagi-bagi oleh berbagai rezim dari masa ke masa. Baik itu diambil sendiri sama kroni-kroni penguasa yang hingga hari ini masih menikmati hasil dari kekuasaan di masa lalu, maupun yang diserahkan kepada perusahaan-perusahaan multinasional dengan persentase pembagian untung yang sangat kecil untuk negara.

Mau siapapun pemimpin yang terpilih di 2019, maka sangat susah bagi mereka bekerja untuk memulihkan Indonesia secara cepat. Sangat susah bagi mereka untuk tidak memperkaya diri dan kroni-kroninya lewat kekuasaan yang ada.

Memberantas kemiskinan tidak bisa semata-mata dengan ngasih modal buat kaum miskin di desa dan kaum pinggiran urban kota. Malah mereka akan semakin terlilit hutang kredit ketika tak memiliki skill "jualan" yang mumpuni. Meningkatkan ekonomi masyarakat tak bisa sekedar mengompori Emak-Emak untuk bisa produktif dengan membuat kreasi di rumah. Karena seringkali produk-produk mereka malah tak laku di pasaran dan tak diapresiasi oleh lingkungannya sendiri. Sehingga sekali dua kali mereka semangat, tetapi ketika yang dibuat cuma hanya jadi pemenuh rumah dan produk makanan yang mereka buat lebih banyak basi daripada yang terjual, akhirnya rugi yang mereka tanggung. 

Kemiskinan itu adalah soal mentalitas, yang untuk mendobraknya harus lewat "cuci otak" yang komprehensif lewat sistem pendidikan yang sejak awal sudah didasarkan alat uji bakat dan minat yang jelas. Seringkali kemiskinan baru bisa diputus oleh generasi kedua dan ketiga dari sebuah keluarga miskin baik lewat kerja keras anak-anaknya yang sudah terpapar pendidikan yang baik atau memang karena nasib baik. Malahan sistem pendidikan yang tak didasarkan pada pemaksimalan bakat dan potensi seorang anak hanya akan membuat lahirnya generasi pengangguran baru dari keluarga yang sebenarnya sudah berada dalam level ekonomi menengah ke atas. 

Layanan kesehatan yang baik dan cepat mewajibkan kehadiran dokter-dokter yang hebat dan berdedikasi tinggi serta fasilitas kesehatan yang tersebar merata di pelosok negeri ini dengan alat-alat yang memadai. Jika para dokter spesialis saja lebih memilih untuk bekerja di rumah sakit swasta di perkotaan dan enggan untuk mengisi formasi PNS tenaga kesehatan yang akan ditempatkan di rumah sakit kota-kota kecil dan puskesmas pelosok-pelosok kampung, maka bagaimana caranya kita mengharapkan layanan kesehatan yang berkeadilan? Jika puskesmas yang ada saat ini baru sebatas 1 puskesmas per kecamatan, dan rumah sakit baru tak kunjung dibangun di setiap kota, sementara ledakan populasi terus menerus terjadi, bagaimana caranya kita bisa memutus panjangnya antrian ketika hendak mendapatkan penanganan kesehatan? 

Mencintai dan mengabdi buat Indonesia tak harus menunggu sebuah rezim berganti. Siapapun yang diberikan kelebihan rezeki dan kelebihan kekuasaan, maka mereka sudah bisa melakukan kerja-kerja sosial tanpa harus dibebani oleh kecintaan dan kebencian kepada sebuah rezim.

Sekarang PR besar kita adalah bagaimana mengoptimalkan potensi diri sehingga kita bisa menguasai sebuah skill dan keilmuan yang dibutuhkan oleh masyarakat entah siapapun rezim yang berkuasa. Bisa mencari jalan kekayaan tanpa harus mendompleng, menjadi kaki tangan penguasa dan bahkan mengkorupsi uang negara.

Karena dengan itulah anggaran negara bisa dikelola dengan baik dan profesional, tanpa disantroni dan dikorupsi oleh para politisi yang juga berprofesi sebagai pengusaha. Yang mengincar kursi kekuasaan agar mereka lebih mudah mendapatkan pundi-pundi ekonomi dan menangguk untung dari proyek-proyek pemerintah. 

Pemimpin itu adalah cerminan dari rakyat. Jika ingin mendapatkan pemimpin yang terbaik, maka jadikanlah diri kita dan masyarakat juga punya perilaku dan etos kerja yang juga terbaik.


Tag :Zaman Jokowi